Doa Didalam Shalat Dengan Bahasa Terjemah

Doa Didalam Shalat Dengan Bahasa Terjemah

Bacaan shalat yang wajib tentu harus dibaca dengan bahasa arab baik tahu artinya maupun tidak. Tapi selain bacaan wajib shalat terdapat beberapa doa. Pertanyaan : bolehkah kita membaca doa tersebut  memakai bahasa terjemahjika kita tidak mampu membacanya dengan bahasa arab ?

Hukum Membaca Doa Dengan Bahasa Terjemah

 Doa Didalam Shalat Dengan Bahasa Terjemah

Do’a di dalam shalat ada dua macam :

1. Do’a yang warid (datang) dari Nabi, seperti do’a yang dibaca pada saat duduk diantara dua sujud dan qunut, maka harus dibaca dengan bahasa Arab sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, kecuali jika tidak mampu dengan bahasa Arab, maka boleh dengan bahasa terjemah -annya.

2. Do’a yang tidak warid dari Nabi dalam shalat. Hukumnya diperbolehkan hanya dengan bahasa Arab. Jika diucapkan dengan selain bahasa Arab atau bahasa terjemah, maka batal shalatnya, meskipun ia tidak mampu mengucapkannya dengan bahasa Arab.

Bagaimana Hukum Memotong Rambut atau Kuku Pada Waktu Haid

Bagaimana Hukum Memotong Rambut atau Kuku Pada Waktu Haid ?

Assalamu`alaikum wr. wb. Pak Ustad, saya seorang wanita dan masalah yang ingin saya ketahui bagaimana hukumnya rambut atau kuku yang sengaja dipotong sewaktu haid. Perlukah kita membasuh potongan rambut atau kuku itu ketika mandi wajib atau membiarkan begitu saja potongan rambut atau kuku itu tanpa membasuhnya ? Mohon penjelasannya beserta dalil yang kuat pada masaalah ini. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih. Gadis Semampai dari Malaysia.

Jawaban Mengenai Hukum Memotong Rambut atau Kuku Pada Waktu Haid

Bagaimana Hukumnya Memotong Rambut atau Kuku Pada Waktu Haid Bagaimana Hukum Memotong Rambut atau Kuku Pada Waktu Haid ?

Wa’alaikum salam wr. wb. Kewajiban dalam mandi adalah membasuh seluruh anggota badan, termasuk rambut dan kuku. Akan tetapi, rambut atau kuku yang telah terpotong tidak lagi termasuk anggota badan, maka tidak wajib membasuhnya. Artinya, tanpa membasuhnya, mandi seseorang telah dianggap cukup. Imam ‘Atha’ sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, mengatakan: seorang yang junub diperbolehkan memotong rambut atau kuku. Hanya saja, menurut Imam al-Ghazaly [dalam Ihya’ Ulumuddin], seorang yang junub sebaiknya tidak memotong rambut atau kuku, bahkan dimohon untuk tidak mengeluarkan darah. Demikian ini, karena setiap anggota tubuh akan dikembalikan seperti semula pada hari kiamat nanti. Dikatakan, setiap rambut akan menuntut atas janabatnya. Pendapat Imam Ghazaly ini banyak dilansir oleh kitab-kitab Madzhab, dan banyak diajarkan di kalangan penganut Madzhab Syafiiyah di Indonesia. Walau sebenarnya terdapat catatan kritis dalam mengutip pendapat al-Ghazaly ini, pengaruhnya masih sangat kuat. Di beberapa kalangan masyarakat, wanita yang haid biasanya menyimpan rambut atau kuku yang terpotong untuk dibasuh saat mandi nanti. Catatan kritis tsb adalah bahwa tidak semua anggota badan akan dikembalikan seperti asalnya pada hari kiamat nanti. Darah, rambut atau kuku adalah diantaranya. Kalau rambut dan kuku yang terpotong akan dikembalikan lagi seperti semula, maka pada hari kiamat nanti manusia akan berambut sangat panjang. Kesimpulannya: Seorang yang junub atau haid atau lainnya TIDAK diwajibkan membasuh rambut atau kuku yang terpotong. karena tidak lagi termasuk anggota badan. Bahkan di saat belum mandi, ia diperbolehkan mencukur atau memotong rambut atau kuku.

Tahukah Anda Kehebatan Shalawat Nariyah

Tahukah Anda Kehebatan Shalawat Nariyah ?

Bacaan Shalawat Nariyah :
Allohumma sholli ’sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taaamman ‘ala sayyidina Muhammadinilladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil qurobu wa tuqdho bihil hawaaiju wa tunalu bihir roghooibu wa husnul khowaatimu wa yustasqol ghomamu biwajhihil kariem wa ‘ala aalihi wa shohbihi fie kulli lamhatin wa nafasim bi’adadi kulli ma’lumin laka
Artinya :
Ya Alloh berilah shalawat dengan shalawat yang sempurna dan berilah salam dengan salam yang sempurna atas penghulu kami Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan, hujan diturunkan, berkat dirinya yang pemurah, juga atas keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak hitungan segala yang ada dalam pengetahuan-MU

Keterangan Tentang Shalawat Nariyah

kehebatan shalawat nariyah Tahukah Anda Kehebatan Shalawat Nariyah ?

Shalawat Nariyah (shalawat memohon kelepasan dari kesusahan dan bencana) adalah antara shalawat yang terkenal diamalkan oleh para ulama kita. Shalawat ini juga dikenali sebagai Shalawat at-Tafrijiyyah al-Qurthubiyyah (dinisbahkan kepada Imam al-Qurthubi), dan ada juga ulama yang menisbahkannya kepada Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Imam al-Husain r.anhuma. Di negeri sebelah maghrib, shalawat ini dikenali sebagai Shalawat an-Naariyah karena menjadi amalan mereka apabila ingin melaksanakan sesuatu hajat atau menolak sesuatu bencana, mereka akan berkumpul dan membaca shalawat ini sebanyak 4444 kali lalu terkabul hajat mereka dan tertolak segala malapetaka secepat api yang menyambar atau membakar. Ia juga dikenal sebagai Miftahul Kanzil Muhiith Li Naili Muraadil ‘Abiid (kunci perbendaharaan yang meliput untuk menyampaikan harapan si hamba). Shalawat ini mempunyai keistimewaannya kerana selain shalawat ia juga merupakan tawassul kepada Allah dengan Junjungan Nabi s.a.w. di mana kita menyebut nama dan dhamir Junjungan s.a.w. sebanyak 8 kali.
Menurut Imam al-Qurthubi barang siapa yang melazimi akan shalawat ini setiap hari 41 kali atau 100 kali atau lebih, nescaya Allah melepaskan kedukaan, kebimbangan dan kesusahannya, menyingkap penderitaan dan segala bahaya, memudahkan segala urusannya, menerangi batinnya, meninggikan kedudukannya, memperbaiki keadaannya, meluaskan rezekinya, membuka baginya segala pintu kebajikan, kata-katanya dituruti, diamankan dari bencana setiap waktu dari kelaparan serta kefakiran, dicintai oleh segala manusia, dikabulkan permintaannya. Akan tetapi untuk mencapai segala ini, seseorang itu hendaklah mengamalkan shalawat ini dengan mudaawamah (berkekalan/terus menerus tanpa putus).
Imam as-Sanusi berkata bahwa barang siapa yang lazim membacanya 11 kali setiap hari, maka seakan-akan rezekinya turun langsung dari langit dan dikeluarkan oleh bumi.
Imam ad-Dainuri berkata bahwa siapa yang membaca shalawat ini dan menjadikannya wirid setiap selepas sholat 11 kali, niscaya tidak putus rezekinya, tercapai martabat yang tinggi dan kekuasaan yang mencukupi. Dan barang siapa yang mendawamkannya selepas sholat Subuh setiap hari 41 kali, tercapai maksudnya. Siapa yang mendawamkannya 100 kali setiap hari, terhasil kehendaknya dan memperolehi kehormatan/kemuliaan melebihi kehendaknya. Siapa yang mendawamkannya setiap hari menurut bilangan para rasul (313 kali) untuk menyingkap segala rahasia, maka dia akan menyaksikan segala apa yang dikehendakinya. Siapa yang mendawamkannya 1000 kali sehari, maka baginya segala yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar dan tidak pernah terbetik didalam hati manusia.
Imam al-Qurthubi juga berpesan bahwa siapa yang berkehendak untuk menghasilkan hajatnya yang besar atau menolak bencana yang menimpa, maka bacalah shalawat ini sebanyak 4444 kali sebagai tawassul (perantara) dengan Junjungan Nabi yang empunya akhlak yang agung, niscaya Allah Ta`ala akan menyampaikan keinginannya dan harapan itu atas niat si pembaca. Ibnu Hajar al-’Asqalani telah menyebut akan kelebihan bilangan ini sebagai iksir fi sababit ta`siir (peti obat sebagai penyebab berlakunya kejadian).
Menurut kata ulama, shalawat ini adalah merupakan satu perbendaharaan dari khazanah-khazanah Allah, dan bershalawat dengannya merupakan kunci-kunci pembuka segala khazanah-khazanah Allah yang dibukakan Allah bagi siapa saja yang mendawaminya serta dengannya seseorang boleh sampai kepada apa yang dikehendaki Allah s.w.t. Keterangan ini semuanya merujuk kepada para ulama dan melihat akan karangan-karangan terdahulu seperti “Afdhalush Shalawat ‘ala Sayyidis Saadaat” karangan Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, “Jawahirul Mawhub” dan “Lam`atul Awrad” kedua-duanya karangan Tok Syaikh Wan ‘Ali Kutan al-Kelantani, “Khazinatul Asrar” karangan Syaikh Muhammad Haqqi an-Naazili dan lain-lain lagi.

Doa Setelah Sholat Fardhu

Doa Setelah Sholat Fardhu 1

Allaahumma laa maani’a lima a’thaita walaa mu’thi limaa mana’ta walaa haadiya limaa adl-lalta walaa mubaddila limaa hakamta walaa rad dalimaa qadlaita walaa yanfa’u dzaljaddi minkal jaddu laa ilaaha illa anta

Allaahumma shali ‘alaa sayyidina muhammadin ‘abdika warusuulikan nabiyyil ummiyi wa’alaa aalihi wa ashabihi wasallim.

Wahasbunallaahu wani’mal wakiilu walaa haula walaa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adhiimi.

Astaghfirullaahal ‘adhiima.

Doa Setelah Sholat Fardhu 2

Bismillaahirrahmaanirrahiim.Alhamdulillaahi Rabbil ‘alaamiin.

Hamdan yuwaafii ni’amahu wa yukaafi maziidahu.

Yaa rabbanaa lakal hamdu kamaa yan baghii lijalaali wajhika wa ‘azhiimi sulthaanika.

Allaahumma shali’alaa sayyidinaa Muhammadin wa’alaa aali sayyidinaa Muhammad.

Allaahumma rabbanaa taqbbal minna shalaatanaa washiyaamanaa wa rukuu’anaa wa sujuudanaa wa qu’uudanaa wa tadharru’anaa wa takhasy-syu’anaa wa ta’abbudanaa wa tammim taqshiiranaa ya Allaahu ya Rabbal ‘alaamiina.

Rabbanaa zhalamnaa anfusa-naa wa in lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lana kuunannaa minal khasiriina.

Rabbanaa wa laa tahmil ‘alaina israh kamaa hamaltahu ‘alalladziina min qablinaa.

Rabbanaa laa tauzigh quluubanaa ba’da idz hadaitana wa hablanaa min ladunka rahmatan innaka antal wahhaabu.

Rabbanaghfir lanaawali waalidiinaa wa lijamii’il muslimiina wal muslimaati wal mu’miniina wal mu’minaati al ahyaa-I minhum wal amwaati innaka ‘alaa kulli syai-in qadiirun.

Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaabannaari.

Allaahummaghfir lanaa dzunuubanaa wa kaffir ‘annaa sayyi-aatinaa wa tawaffanaa wa-‘al abraari.

Subhana Rabbika Rabbil ‘izzati ‘amma yashifuuna wa salaamun ‘alal mursaliina walhamdu lillaahi Rabbil aalamiin.

Bolehkah Berbicara Ketika Berwudhu

Bolehkah Berbicara Ketika Berwudhu ?

Pak Ustad, bolehkah saya berbicara ketika berwudhu ? Bagaimana hukumnya ?
sukron..

Hukum Berbicara Ketika Berwudhu

 

berbicara saat berwudhu Bolehkah Berbicara Ketika Berwudhu ?

Hukum berbicara ketika berwudhu tanpa ada hajat atau keperluan adalah makruh bahkan dianjurkan untuk berdzikir ketika berwudhu. Namun ada ketentuan lain yaitu jika ada keperluan yang darurat, penting atau sangat penting, maka diperbolehkan berbicara saat berwudhu bahkan dapat menjadi wajib jika menyangkut , keamanan barang, keselamatan badan atau  terancamnya nyawa, seperti ketika melihat ada orang yang hendak mencuri, anak kecil memegang benda tajam yang membahayakan, orang salah jalan, orang yang hendak digigit ular atau orang buta yang akan jatuh ke dalam sumur dsb. Begitu juga tidak makruh hukum berbicara ketika berwudhu untuk mengucapkan salam atau menjawabnya, bahkan menurut pendapat syekh Zakariya al-Anshori, wajib untuk menjawabnya.

sumber :http://adehumaidi.com